iklanheader

5 Cara Mengatasi Bullying Anak di Sekolah

cara-mengatasi-bullying

Hampir semua orang kini tidak asing mendengar kata bullying. Kata yang menunjukkan suatu perilaku mengintimidasi atau mempermalukan orang lain di depan umum bisa secara fisik, verbal maupun perbuatan yang tidak pantas. Bullying bisa terjadi dimana saja termasuk di sekolah, baik dari tingkat SD sampai SMA.

Bullying menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh berbagai pihak di sekolah. Pasalnya apabila anak menjadi korban bullying salah satu dampaknya dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri bahkan bisa berdampak pada mental anak. Selain itu juga banyak dampak bullying lainnya yang dapat ditimbulkan baik pada korban, pelaku ataupun anak yang menyaksikan peristiwa bullying.

Baca Juga: Kasus Bullying di Sekolah, Orangtua Harus Waspada

Untuk mengetahui apakah anak menjadi korban bullying atau tidak, orang tua di rumah dapat melihat dari ciri-cirinya. Berikut ciri-ciri anak yang mengalami bully di sekolah:

• Anak kerap mengurung diri di kamar
• Menjadi lebih emosional dan kasar
• Meminta pindah sekolah (school phobia)
• Konsentrasi belajar dan prestasi menurun
• Anak menjadi penakut dan kerap gelisah
• Sering mengalami mimpi buruk
• Anak mengalami kesulitan tidur
• Kesulitan menaruh perhatian di kelas atau kegiatan apapun
• Sering membuat alasan untuk bolos sekolah
• Tiba-tiba menjauhkan diri dari aktivitas yang disukai sebelumnya seperti naik bus sekolah atau mengunjungi tempat bermain
• Tampak gelisah, lesu dan putus asa terus-menerus

Cara Mengatasi Bullying di Sekolah


Nah, apabila anak-anak menunjukkan ciri-ciri di atas, orangtua perlu bertindak untuk mengatasinya. Selain orangtua, guru dan pihak sekolah pun berperan penting untuk mengatasi bullying. Lalu bagaimana cara mengatasi bullying di sekolah? Berikut di antaranya:

1. Komunikasi dengan Anak

Setelah mengamati dan terlihat ciri-ciri bahwa anak terkena bully, langkah selanjutnya adalah bertanya kepada anak. Namun, hindari pertanyaan yang secara langsung. Untuk menggali informasi pada anak harus menciptakan suasana yang nyaman. Tidak dibutuhkan waktu khusus untuk berbicara. Hal tersebut malah membuat anak tidak nyaman untuk mengatakan apa yang sedang dirasakannya. Saat bertanya pada anak, perhatikan bahasa tubuhnya, apakah terlihat gelisah, bingung atau takut.

2. Gali Informasi Melalui Teman Dekat Anak

Seorang anak tidak bisa menyimpan rahasia bully sendiri. Kemungkinan besar, ia akan cerita kepada seseorang yang membuatnya merasa lega. Nah, Anda bisa menggali informasi melalui orang tersebut. Selain pada temannya, informasi dapat dicari dari smartphone atau gadget lain yang dimiliki anak.

Menggali informasi anak bermanfaat untuk menguatkan pengakuan anak. Meskipun anak sudah mengakui bahwa ia terkena bully, Anda perlu mengkonfirmasi hal tersebut pada pihak yang dekat dengan anak Anda. Karena bagaimanapun mungkin anak tidak terkena bully, tetapi mengalami pertengkaran wajar dengan temannya.

3. Menghubungi Pihak Sekolah

Setelah kedua langkah di atas, Anda dapat melakukan diskusi dengan pihak sekolah, terutama guru anak. Anda dapat meminta waktu secara pribadi untuk membicarakan apa yang sedang dialami anak Anda. Awalnya Anda bisa menanyakan mengenai perkembangan anak di sekolah dan pertanyaan lainnya yang masih terkait.

Kemudian Anda dapat mulai membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dengan anak Anda. Anda tidak perlu meminta sekolah atau guru pembimbing untuk menjaga anak Anda dengan ketat. Hal tersebut justru akan membuat anak tidak nyaman atau membuat teman-temannya iri karena anak Anda mendapatkan perlakuan khusus. Dampak buruknya, ia bisa semakin dibully.

Anda cukup minta kerjasama dan komitmen dari pihak sekolah untuk melakukan sosialisasi kepada murid-murid tentang bullying. Selain itu, minta tolonglah kepada pihak sekolah, khususnya guru pembimbing untuk memberikan perhatian lebih kepada anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya di kelas.

4. Menghubungi Orangtua dari Pelaku Bullying

Tidak hanya sampai ketiga cara di atas. Langkah selanjutnya adalah dengan menghubungi orangtua pelaku bullying. Hal tersebut bertujuan agar pelaku sadar bahwa sikapnya itu tidak baik. Oleh karena itu, jelaskan sikap anak tersebut kepada orangtuanya secara netral dan hindari untuk menyudutkan si anak.

Bicarakan dengan cara yang baik. Anda dapat menunjukkan bukti bahwa anak Anda memang terkena bully. Tugas Anda hanya menginformasikan perilaku anaknya, bukan untuk menghukum anaknya.nHukuman yang menjerakan hanya bisa dilakukan oleh pihak terdekat anak.

5. Minta Bantuan Ahli

Mengatasi bullying di sekolah memang tidak sesederhana yang diikirkan. Apabila tahapan pertama hingga keempat belum membuahkan hasil maksimal dan anak terlihat semakin down atau menunjukkan tanda-tanda depresi, sebaiknya pindahkan anak dari sekolah tersebut atau hindarkan dari lingkungan pembully.

Agar kejadian semacam ini tidak terjadi lagi di lingkungan yang baru, Anda bisa mengajak anak ke psikolog, psikiater atau konsultan keluarga. Sama seperti yang kita ketahui, bahwasannya bullying adalah perbuatan yang dilakukan dengan cara merendahkan martabat seseorang.

Cara Mencegah Bullying

Selain itu, agar perilaku bullying tidak terjadi, Anda dapat melakukan pencegahan, bagaimana caranya? Berikut cara mencegah bullying pada anak, di antaranya:

1. Pencegahan Orangtua

  • Menerapkan hidup disiplin dan bertanggung jawab
  • Selalu berkomunikasi dengan anak sehingga anak tidak merasa canggung untuk membicarakan hal-hal buruk yang dialaminya
  • Merangkul bukan memarahi ketika anak sedang mengalami masalah
  • Tidak berbicara hal kasar kepada anak
  • Pastikan anak berada di lingkungan yang tepat

2. Pencegahan Sekolah

  • Membekali para guru dan pelatih lewat pelatihan seminar tentang mencegah bully
  • Memberikan penyuluhan bagaimana bullying sangat berdampak buruk dan merugikan lingkungan sekolah yang dihadiri oleh para murid
  • Membuat poster tentang pencegahan bullying


Demikian pembahasan mengenai cara mengatasi bullying anak di sekolah. Sudah sepatutnya menjadi hal yang diperhatikan bagi semua pihak agar perilaku ini tidak terjadi. Semoga bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel